Rabu, 22 Juli 2009

Nama Depan Nama Saya

23 Juli 2009 entah mengapa hari ini terasa begitu istimewa...
Bahkan, sejak beberapa hari yang lalu, kolom agenda hari ini menjadi sesuatu yang begitu Bee nantikan.

Yap! 23 Juli ini... saat mainan mini oleh-oleh Karin dari Singapur dulu menempel dengan manis pada asturo biru langit di kamar. Si imut inilah yang memberi aksen sendiri pada catatan-catatan kecil yang tertera di sana:
- ambil legalisir ijazah dan transkrip nilai versi B.Ing di front office kampus,
- ambil pas foto yang dicetak di Kayonna kemarin malam,
- ke warnet buat ngedit profil registrasi online PDK Deplu,
- fotokopi sertifikat-sertifikat seminar, training, dan penghargaan (?)
*cailahhh... kata yang terakhir ini rada spesial buat Bee. Prestasi sebagai TOP 30 Audisi Kotex Be "Young, Outstanding, Unique" disingkat "YOU" menjadi jimat yang nggak pernah lupa Bee sertakan setiap kali mengirimkan CV untuk melamar kerja. Geli juga kalo inget-inget hal yang satu itu, ihiy... sutralah, lanjut ke topik selanjutnya*
- makan soto atau apapun yang anget bin seger untuk melegakan tenggorokan yang serak..
*yang satu ini agenda tambahan... benar-benar baru ditambahkan karena sejak pagi badan meriang dan lemas. Yaiyalahh... udah tau sakit, malah tidur tanpa kemulan selimut tebel padahal semalem duingin buangedh!!! tapi, ya... sutralah... lanjut!*

Ya, ya, ya... lima agenda untuk hari ini, selain catatan besar-besar: HARI INI JANGAN BOLOS LES MANDARIN LAGI UNTUK YANG KE-11 KALINYA! (Oh, God...) saking banyaknya agenda yang saling tumpang tindih, les yang satu itu terbengkalai. Bayangkan, 10x berturut-turut, udah kayak apaan tau ilmu yang nggak Bee dapet! hanya tersisa 2 kali bolos lagi, hikz... sedih rasanya meski mungkin les itupun akan Bee lepaskan sebelum 5 Sepetember 2009 datang! =')

Tapi... tapi... bukan catatan itu yang menjadikan hari ini PENTING (P-E-N-T-I-N-G), melainkan karena hari ini adalah "Perayaan wajib Santa Birgitta dari Vadstena, Swedia". Who is Birgitta? Birgitta is a saint. Birgitta is my first name. Bee for Birgitta.

Nama depan nama saya itu Birgitta. Sebuah nama yang selalu membuat juru ketik atau petugas administrasi manapun kesulitan mengetiknya. Entah karena namanya yang memang sulit.., entah karena "Bir" pada "Birgitta" dinilai tak lazim dibandingkan "Bri" pada "Brigitta".., atau emang dasar SDM yang bersangkutan nggak mutu ajah... "...nggak profesional, masa nulis nama begini ajah salah terus!" omelan yang paling sering dilontarkan Bapak, orang yang merasa berkompeten dalam hal pemberian nama anak gadis satu-satunya ini. Belum lagi, nama "Birgitta" yang dituliskan menjadi "Girgitta" oleh petugas DPT saat Pemilu di Bogor kemarin. Oh, mai-gat! Udah ditulis tangan, salah pula, gag ditip-ex pula... ='( klo diketik, masih maklum... barangkali huruf "B" pada keyboardnya rusak, ha..ha..ha..ha..ha.. (ketawa ala Mbah Surip).

Birgitta dan bukan Brigitta. Bukan... bukan nama yang kedua... yang tertera pada setiap arsip kelulusanku sejak TK s.d SMP dari sekolah swasta favorit yang terletak di depan Istana Bogor. Sebelas tahun lamanya menuntut ilmu di sana, selama itu pula seluruh arsip yang ada nama depan "Bir" tadi selalu keliru jadi "Bri". Dan mungkin sepanjang masa itu pula, Bapak/ Ibu lumayan sering komplain ke petugas TU di sekolah.. =) yahhh... itulahhh...

Mari... mari... Bee lanjutkan ceritanya. Kali ini Bee akan berbagi informasi tentang siapa itu "Birgitta", sosok yang menjadikan hari ini begitu spesial baginya... =)

23 Juli - Santa Birgitta

Tahun 1303, Birgitta lahir di Vadstena, Swedia. Ia putri turunan Raja Swedia. Sejak kecil, ia rajin mengikuti Kurban Misa dan mendengarkan kotbah pastornya. Kebiasaan ini menanamkan dalam dirinya benih-benih iman yang kokoh dan berguna bagi cara hidupnya di kemudian hari. Pada usia 13 tahun, Birgitta menikah dengan Pangeran Ulfo dari Gudmarson, putra seorang bangsawan Swedia. Dari pernikahannya ini, Birgitta dianugerahi delapan orang anak selama 28 tahun hidup bersama suaminya. Sebagai ibu rumah tangga, Birgitta sangat bijaksana dalam mengatur keluarganya dan dengan penuh kasih sayang mendidik anak-anaknya. Masalah pendidikan anak-anak menjadi perhatian utama. Hasil didikannya terbukti pada diri anaknya, Katarina, yang kelak menjadi orang kudus (juga), yakni Santa Katarina dari Swedia.

Tahun 1335, Birgitta dipanggil ke istana Raja Magnus II Erikson (1319-1365) untuk menjadi ibu rumah menantikan kehadiran Blanche dari Namur, permaisuri Raja Magnus. Selama berada di istana, Birgitta memberi bimbingan kepada Magnus II bersama permaisurinya dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup perkawinan.

Sepeninggal suaminya pada tahun 1344, Birgitta masuk biara Cisterian di Alvastra. Di biara ini, ia menjadi suatu corak hidup rohani yang keras, sambil tetap mendampingi Raja Magnus II bersama permaisurinya. Raja Magnus inilah yang kemudian menjadi pelindung dan pembantu setia para suster yang menjadi anggota tarekat religius yang didirikan oleh Birgitta di Vadstena pada tahun 1346. Ordo baru ini dimaksudkan untuk menghormati Sang Penebus Yesus Kristus. Kekhususan ordo ini adalah Ordo ini menghimpun banyak suster, beberapa orang imam dan bruder,perisiti yang hidup terpisah-pisah di rumah masing-masing, tetapi bersama-sama memuji Tuhan dalam satu gereja. Urusan biara dipimpin oleh seorang abbas perempuan, sedangkan kehidupan rohani diserahkan kepada seorang imam biarawan.

Untuk mendapatkan restu Sri Paus atas tarekat yang didirikannya, sekaligus merayakan Tahun Suci 1350, maka pada tahun 1349, Birgitta pindah ke Roma ditemani oleh Katarina anaknya. Di Roma, Birgitta bertapa keras, memperhatikan orang-orang miskin dan sakit, serta memberikan nasehat kepada Sri Paus mengenai masalah-masalah politis. Ia tak hentinya menasehati Paus Klemens VI (1342-1352), Paus Urbanus V (136
3-1370), dan Paus Gregorius XI (1370-1378) agar Takhta Suci dipindahkan kembali dari Avignon ke Roma. Sampai akhirnya, pada tahun 1371, Paus Urbanus V memberi restu atas pendirian tarekat yang didirikan Birgitta tersebut.

Birgitta memiliki kemampuan kenabian dan meramalkan banyak peristiwa kerohanian dan politik. Berulang kali ia mengalami hambatan dan pengejaran, namun tidak pernah berkecil hati. Ia teguh dalam iman dan panggilannya yang suci.

Setelah suatu perjalanan ke Tanah Suci pada tahub 1371, Birgitta kembali ke Roma. Dua tahun kemudian, 23 April 1373, Birgitta meninggal dunia di Roma.

Paus Bonifasius I
X (1389-1404) menganugerahi gelar "santa" kepada Birgitta pada tahun 1391.

Nah.. nah.. kali ini Bee bisa berteriak lantang: "santa pelindung yang jadi nama depan nama gue itu EKSIS kali!!!" Berkat buku yang Bee pinjam di sekretariat paroki Kotabaru, yang salah satu artikel tentang Birgittanya difotokopikan Mas Saptono, Bee jadi tahu dan yakin bahwa dulu Bapak nggak salah liat ataupun ngasal ngasih nama. Hohohoho...

Saat Bee tahu bahwa Santa Birgitta seorang advisor... tidak hanya dalam hal rohani, tapi juga politik... Bee jadi makin mantabh dengan gelar Sarjana Ilmu Politik (SIP) yang disandangnya.

Inikah jalan yang telah dipersiapkan-Nya untukku?

Sebuah jalan yang Bee pilih, jauh-jauh hari sebelum Bee mengetahui detail tentang Santa Birgitta, aktivis gereja (rohani) dan juga pengamat politik. Semoga semangat dan teladan hidupnya menjadi api yang tak lekang terpadamkan oleh hambatan apa pun. Alleluia! ^,^

Kamis, 02 Juli 2009

..peziarahan panjang..

Fiuhh! Nafas panjang berhembus dari indera pernapasanku... berjam-jam lamanya, Bee pandangi layar ini... mengamati setiap baris kalimat yang tertera di dalamnya. Hari demi hari seperti ini. Mencari dan terus mencari. Setiap saat mencoba untuk bersabar... mencoba bertahan... mencoba mencermati. Saat ini bukanlah masa yang mudah... menyandang gelar Sarjana Ilmu Politik di belakang nama membuat Bee harus berusaha ekstra. Ekstra keras dalam pertarungan melawan idealisme dan pragmatisme.

Saat ini telah memasuki bulan ke-2 pasca wisuda, 19 Mei 2009... entah sudah berapa kesempatan kerja Bee lepaskan... sekedar untuk memantapkan hati bahwa profesi Bee nantinya adalah yang terbaik. Cukup satu kali pilih, sekali 'tuk selamanya.

Saat ini entah sudah pagi yang ke berapa saat insomnia akut ini menyerang Bee. Kelulusan mengubah hidup Bee. Tidak ada kuliah pagi... hanya kursus Mandarin sedari Magrib hingga pukul delapan malam hari. Belajar menulis hanzi... mencoba mengingat-ingat pinyin... dan berlatih melafalkan shengdiao... dengan harapan, Bee akan mampu baca-tulis hanzi dengan pinyin dan pelafalan shengdiao yang tepat. Level dua. Ya... tanpa terasa sudah level dua... masih empat level menanti... sementara level dua baru akan selesai September nanti. Akankah Bee bertahan?

Masa-masa ini bagai peziarahan panjang... Suasana hati tak menentu... Kecemasan demi kecemasan menghadang. Bukan sekedar memilih kerja atau kuliah lagi. Bukan pula sekedar memilih kerja dulu agar bisa kuliah lagi di luar negeri ataupun kuliah saja di dalam negeri. Kebimbangan dan keraguan ini senantiasa menghambat Bee maju. Ada ketakutan... ada kecemasan... takut-takut akan terjatuh...

Dalam keterbatasan diri, Bee mencoba bangkit perlahan... dengan sisa energi yang ada. Bee masih membawa idealisme lulusan ilmu politik... penuh harap kelak mampu menjadi analis politik luar negeri yang mumpuni... mungkin belum akan sekelas dosen kawakan ataupun menteri luar negeri, biarlah semua ini Bee mulai dari jurnalis junior pada kolom-kolom tersembunyi.

Semoga Bee kuat... semoga... semoga...
Semoga saja tiga Juli ini... hari jadi Ibu... memberi kekuatan tersendiri bagi Bee...
Bunda, doakan anindamu di Jogja ini...
Semoga libur sekolah segera usai, hingga Bee bisa mengajar lagi... (~~")





Nb: Bee, sarjana ilmu politik yang senang bergumul dengan dunia anak, sempat mengajar sebagai guru privat bahasa inggris untuk anak-anak di beberapa tempat. Impian terbesar Bee adalah jadi duta PBB untuk anak-anak... UNICEF kali yaaa... Target dalam waktu dekat: meningkatkan kualitas TOEFL ITP, memantapkan bahasa Prancis dan terus berlatih Mandarin. Jiayou! ^-^

Selasa, 09 Juni 2009

..tanggal kembar, kembar usia..

Hari ini masih pagi.
Tanggal sepuluh dini hari.
Perutku lapar terus berbunyi.
Tak cukup tenang diganjal roti.

Capek.. lelah.. agak emosi.
Kamu.. dia, Dia.. kamu.. bikin panas hati.
Panas-dingin, dingin-panas, nyeri-nyeri.
Sakit sendiri.. perih sendiri..

Namun, hatiku mulai berseri.
Saat ku ingat tinggal sisa sehari.
Hari jadiku setelah setahun menanti.
Degup-dentang berdentang dalam hati.

Sebelas dua-dua, Dua-dua sebelas..
Tanggal kembar, buat hati berbinar..
Dua-dua bertambah tua, usia tua harus ikhlas..
Sebelas dua-dua, Dua-dua si Angka kembar..
Hari berganti munculkan cemas..
Semoga esok hari ku berbinar...



Minggu, 22 Maret 2009

Larik-larik Jengah

Aku diam
Kau anggap Ku angkuh

Aku aktif
Kau sebut Ku agresif

Aku cuek
Kau anggap Ku mati rasa

Aku peduli
Kau sebut Ku sok aksi

Aku acuh
Kau bilang Ku tak berhati

Aku terbuka
Kau nilai Ku gampangan

Aku dimiliki
Kau merasa dijahati

Aku sendiri
Kau lihat Ku tampak haus belaian lelaki


Aku diam dan aku aktif

Aku cuek dan lalu aku peduli

Aku acuh dan lalu lantas aku terbuka

Aku dimiliki hingga akhirnya kembali menyendiri


Ini AKU...
yang Kau kenal.

Itu NAMAku...
yang amat Kau hafal.

Ini PRIBADIku...
yang seringkali buat Kau sebal.


Itu AKU.. NAMAku... PRIBADIku...
dan beragam TINGKAHku...

yang senantiasa buat Kau kesal.


Namun sayangnya,

Ini masih AKU dan JIWAku

...

yang berulang kali Kau jegal

...

untuk kemudian,

...

Kau tingal










Nb:
Larik ini dibuat beberapa minggu ke belakang..,
saat insomnia akut kambuh..,
saat gigi 'nyengsol' belum dioperasi.

Larik ini ditujukan bagi sosok manusia manapun..,
yang senantiasa menilai pribadi orang lain dengan menuntut kesempurnaan atasnya.
Sosok yang menjadikan pribadi manapun merasa bersalah terlahir sebagaimana adanya ia.

Secara khusus, larik ini ditujukan bagi siapa saja..,
manusia yang sempat memandang Bee sebelah mata.
Helloooooooooooooooooooooooooooo...................

"I am single and very berry happy"

Senin, 09 Maret 2009

Dulu Itu...


D.U.L.U I.T.U



D.U.L.U I.T.U aku buat kesalahan.
Mencintai dirinya sebagai satu pilihan.

D.U.L.U I.T.U aku terlena dalam impian.
Menikah dengannya sebagai sebuah harapan.

D.U.L.U I.T.U aku pongah akan kenyataan.
Memiliki sosoknya sebatas pada kesamaan.

D.U.L.U I.T.U aku memupuk kebodohan.
Berhasrat menyayangi meski tanpa landasan.

D.U.L.U I.T.U pula aku buat keputusan.
'tuk akhiri ketidakpastian..
'tuk menyudahi pertengkaran..
dan membalut permusuhan dalam perdamaian.

D.U.L.U I.T.U hanya ada aku, aku dan..
sketsa anganku di masa depan.

D.U.L.U I.T.U memang tinggal kenangan.
Dan kini langkahku masih harus terus berjalan.

Yang D.U.L.U I.T.U kini jadi pelajaran.
Bahwasanya hidup tak' berkesudahan.





*Tulisan ini dibuat saat insomnia Bee kambuh lewat tengah malam. Like usual, when Bee caught in the middle of 'mellow', she would get divine inspiration (baca: wangsit) to create a poet...whew!*

Jumat, 20 Februari 2009

Mengejar SPMB = "Sosok Priya Maunya Bunda"

Prolog:

SPMB? Mungkin Kamu seringkali mendengar istilah populer tersebut. SPMB atau singkatan dari Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru merupakan suatu ajang bergensi ya
ng sekitar empat tahun lalu membawa Bee dari Bogor menuju PTN (Perguruan Tinggi Negeri) prestisius di Yogyakarta. Bee lebih senang menyebut SPMB sebagai ajang adu mental, di mana seorang pelajar tidak hanya harus menguasasi materi tertentu, tetapi juga harus pandai-pandai berstrategi. Bukan strategi nyontek tentunya... karena fakta telah menunjukkan betapa teman-teman Bee yang UNAS Matematikanya dapat 10 ataupun 9 sebagai hasil nyontek (dapet bocoran) hanya sebagian kecil yang berhasil menembus ajang SPMB ini. Nah.., pada tulisan kali ini Bee tidak akan bahas soal trik-trik jitu menghadapi SPMB, tetapi Bee menyoroti suatu hal lain yang demikian dekat dengan keseharian Bee (semoga juga keseharianmu). Bee mengangkat wacana mengenai pria idaman orang tua. Dalam hal ini, Bee menyebutnya sebagai SPMB = Sosok Priya Maunya Bunda. Kalau kalian pernah mampir ke blog Bee di multiply.com, tentu saja kalian pernah menemukan tulisan ini. Mungkin kalian bertanya-tanya: "kenapa dipindah?" Bee menjawab: "karena blogspot lebih universal, mudah diakses karena telah memasyarakat."

Baiklah... supaya tidak mengulur waktu lebih lama lagi. Selamat membaca!

----------------
---------------------------------------------------------------------------------
Sesuatu spesial terjadi di hari Rabu terakhir tahun 2008 lalu. Yoiyoi... Di tengah terik panas matahari yang menghujam bumi Bogor kala itu, Bee bertemu dengan dua orang teman dekatnya semasa SMA
dulu. Keduanya pernah duduk sebangku dengan Bee saat kelas 2 dan 3 IPA 6. Mereka adalah Dini dan Dewi. Duo “D” ini bener-bener menjadi kejutan manis Bee di akhir tahun 2008. Mereka melakukan sejumlah perubahan dalam penampilan mereka. Dini yang menyebut namanya dengan “BumbleDee” di Facebooknya, kini sudah berjilbab. Dalam balutan baju muslim gaul, Dee tampak lain hari itu, hari pertemuan kami setelah tiga tahun lebih tidak bertemu. Dan kejutan pertamanya adalah kami memakai sandal gladiator dengan model yang sama, berbeda warna, merk, dan harga (udah pasti punya Bee yang harga ekonomis, lah...). Lalu, Dewi yang datang menyusul dan masih saja terlambat ini, tampil dengan rambut pendek sebahu. Cewe yang satu ini berani juga memangkas rambut hitam pekatnya yang tebal dan panjang sepinggang semasa kelas 3 SMA dulu. Dan lebih nekatnya lagi, dia sampai ngecat rambutnya dengan warna mahogany, wow! Belum lagi alis matanya yang dibentuk, menyisakan sebagian bekas rambut alis yang dicabutinya *mungkin*, serta dandanan yang olalalala...centilnya, membuat Bee dan Dee hanya mampu ketawa-ketiwi melihatnya.

Dalam tiga tahun terakhir, beraneka kisah terjadi pada kami. Pertemuan singkat hari itu tidak cukup mer
angkum kesemua kisah yang kami alami dan ingin kami bagi. Kami seolah-olah saling berlomba untuk menceritakan peristiwa yang sempat dialami. Dewi yang sudah pacaran cukup lama dengan seorang pria di mana bika ambon berasal, disertai polemik perselingkuhannya dengan adik tingkatan di kampus, belum lagi ajakan perselingkuhan yang lain dari salah seorang teman sekelas kami semasa kelas tiga SMA dulu: olalala!. Menyambung kisah cewe centil ini, Bee berbagi kisah kasihnya yang putus-sambung selama 4 tahun dengan pria yang sama, dan mencoba pacaran dengan orang baru yang hanya berlangsung selama kurang dari dua bulan karena sang Cowo diketahui main belakang, hingga akhirnya malah CLBK dengan mantannya, akhirnya Bee putus. Kemudian, kisah seru dialami oleh Dee yang sedari awal diam-diam menghanyutkan. Bukan berarti Dee yang kalem ini diam saja mendengarkan ocehan Bee dan Dewi yang memang cerewet, melainkan di awal tadi Dee lebih banyak menceritakan orang lain – teman-teman SMA juga – yang sudah menikah, beserta gosip-gosip yang menyertai pernikahan mereka. Hohoho... ternyata Dee dijodohkan. Wadaw!

Guna membahas kisah Dee yang menarik ini dan menunggu jam pemutaran film “Bedtime Stories”, siang itu pula kami mengelilingi Botani Square. Tidak cukup naik-turun eskalator, keluar-masuk gerai, kami mengelilingi parkiran dan pelataran yang bisa ditempuh dengan jalan kaki. Kurang kerjaan memang. Hanya saja kami tidak mendapatkan bangku untuk duduk bertiga dan bercerita, hingga akhirnya kami menemukan bangku tersebut dan langsung menyerbunya. Mulailah Dee bercerita tentang izin menikah muda yang diutarakan oleh Ayahnya. Namun, hal ini berbeda dengan sang Bunda, yang memiliki pandangan lain. Demikian halnya, Dee secara pribadi, yang sudah nyaman dengan ke-jomblo-annya saat ini. Dee dikenalkan pada anak salah seorang rekan kerja Ayahnya. Anak sulung dari lima bersaudara
. Pria mapan yang bekerja sebagai PNS. Ya, PNS! Bukan CPNS! Dan, seperti halnya saat mendengar tentang anggota TNI ataupun POLRI, mendengar seseorang bekerja sebagai PNS saja, hati wanita bisa merasa cukup tenteram. Mengapa? Karena bayangannya adalah tunjangan-tunjungan yang sudah pasti diterima selama menjabat sebagai PNS. Kesannya matre, kah? Ya, nggak, lah... itu namanya realistis! Meski uang tidak bisa membeli segalanya (kebahagiaan, kesetiaan, keutuhan rumah tangga, kepercayaan, dan hal-hal immateriil), tapi bukankah penghasilan tetap sang Mantu menjadi dambaan mertua. Lho? Lho?

Saat Dee kian larut dalam kisah kecemasannya akan dinikahkan dalam waktu dekat, paling cepat pasca kelulusannya dari S1, yang artinya tahun ini; pandangan Bee sesekali berpaling ke arah ponselnya. Bee me-reply sms seorang sahabatnya yang lain, berinisial “P”, yang sedang berlibur di Sulawesi, tetapi sibuk dengan aktivitas harian menemani pria
yang diajukan oleh Mamanya sebagai calon pendamping hidup. Kasus “P” berbeda dengan Dee, dalam hal ini beda instansi, hehehe... TNI dan PNS. Bee mampu berkata apa? Selain kalimat yang sama yang meluncur dari bibir mungilnya *lebay!* yang Bee sampaikan baik kepada “P” maupun Dee. “Coba dijalani dulu aja... Memang, sich, usia yang terpaut cukup jauh dengan kita (“P” terpaut 5 tahun dan Dee terpaut 9 tahun) kadangkala membuat kita kurang nyaman saat berpacaran... tapi itu, kan, hanya ketakutan di awal. Sejauh ini, sich, gw sering dibilangin bahwa usia yang terpaut jauh malah bagus saat menikah karena sang Pria bisa ngemong si Wanita. Apalagi wanita, kan, cenderung ingin di-mong.” Dalam hati kecil, Bee serasa mendapat tantangan batin tersendiri menghadapi kata-katanya. Bagaimana mungkin Bee bisa seolah-olah menjamin temannya akan bahagia dengan pria pilihan orang tua mereka, dengan usia yang terpaut cukup jauh lebih tua, dan dengan pengalaman pacaran beda usia yang minim dialami Bee. Yah.., sejauh ini Bee tidak menarik lagi kata-katanya, karena Bee pun mengharapkan hal yang serupa. Bukan Bee mengharapkan akan dijodohkan, tapi Bee berharap menemukan sosok pria dewasa, yang usianya terpaut tiga sampai lima tahun lebih tua darinya. Kenapa lima tahun jadi batasan? Bee ingin pasangannya tidak lebih tua dari sang Kakak yang terpaut enam tahun darinya.

-------------------------------------------------------------------------------------------------
Mendengarkan kisah sahabat-sahabatnya yang dijodohkan oleh kedua orang tua mereka membuat Bee bersyukur karena orang tuanya tidak demikian. Tidak
atau belum. Haduh! Jangan-jangan mereka secara diam-diam melakukan kongsi perjodohan dengan keluarga mana gitu. Hehehe... Bee mulai menghitung dengan jari muuungilnya *mekso!*: P... Dee... dan T... Wah, sudah tiga sahabatnya yang mengalami kasus semacam ini. Apa yang sebenarnya terjadi pada tahun-tahun belakangan? Sudah cukup tuakah kami sebagai perempuan sehingga kami harus segera memikirkan pernikahan? Lalu, ke manakah nasihat-nasihat semasa kecil dulu tentang kejarlah mimpimu, carilah ilmu ke negeri orang, dan sejenisnya? Di kala kami baru akan menggapai mimpi? Tinggal selangkah lagi, lagi, dan lagi... Oh, migot! Bee terdiam sejenak. Cukup syok membayangkan jika hal tersebut menimpanya, juga membayangkan teman-temannya terpaksa menikah dengan melepas mimpi-mimpi yang belum sempat mereka wujudkan.


-------------------------------------------------------------------------------------------------
Bee
kembali pada posisi sadarnya dan teringat akan perdebatan dengan orang tuanya. Bukan perdebatan yang pertama terjadi. Ini sudah perdebatan kesekian kalinya dan senantiasa terjadi tiap kali Bee mengangkat isu: “Kenapa orang Jawa harus sama orang Jawa, sich?” Perdebatan ini akan selalu berujung pada statement akhir dari ortu yang intinya berbunyi: “Pengalaman mengajari segalanya.” Dan, Bee masih tidak bisa menerima hal tersebut. Bagaimana mungkin kegagalan rumah tangga orang (karena beda budaya) bisa dijadikan tolak ukur kegagalan di masa depan? Dirintis saja belum... Dan pernyataan ini dengan gampangnya dibantah dengan: “Orang berkeluarga itu bukan untuk coba-coba.” Dan dalam hati Bee masih saja gondok dan menggumam: Siapa juga yang berpikir menikah sekedar untuk coba-coba ataupun main-main? Konteks masalahnya, khan, kenapa gue harus membangun rumah tangga dengan orang dari asal budaya yang sama dengan gue. Lalu, tiba-tiba salah satu dari orang tua itu berujar: “Ini soal rasa. Ini soal bahasa. Pribadi manapun cenderung akan memilih orang dengan rasa (budaya) yang sama. Jawa dengan Jawa. Padang dengan Padang. Sunda dengan Sunda. Dan sebagainya. Seperti ada sesuatu yang nyekrup, yang klop, jika berasal dari budaya yang sama.” Bee mulai merasa dirinya sedang diindoktrinasi, meski mungkin Bee malah sudah terindoktrinasi sejak lama, lebih tepatnya sejak Bee mengetahui sang Kakak menyerah untuk mengikuti aturan main kedua orang tuanya. Haruskah aku hidup bersama dengan Sosok Priya Maunya Bunda (SPMB)??? Arrrghhhhh!!!

Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkk!!! Entah sudah berapa kali Bee rasanya ingin berteriak demikian. Okelah, Bee pernah menjalin cinta terlarang (beda agama) selama empat tahun lamanya. Terlarang karena backstreet dari ortu masing-masing, terutama ortu dan keluarga si Cowok. Tapi, secara budaya kami klop. Dia blasteran Sunda-Surabaya. Anakanya
santun dan tekun, tapi tetap saja kami nggak bisa disatukan. Okelah, Bee pernah ada rasa dengan kakak kelasnya semasa SMA. Dua tahun lebih tua darinya. Seiman dan sebudaya, blasteran Wonosari, tapi Bee nggak pernah kenal pribadi pria ini secara intens. Okelah, si Pria Wonosari ini pernah menunggunya selama hampir lima tahun lamanya sampai akhirnya ia menambatkan hati pada gadis lain yang empat tahun lebih muda dan beda agama. Oh, damn! Tau gitu dari dulu gue jadiin ajah! Dan nggak oke-nya, sikap kedua orang tua yang mendiktenya untuk “selalu Jawa” sempat menjadikan Bee terobsesi dengan pria-pria "produksi" Jawa Tengah dan sekitarnya. Sebut saja: Kalibawang, Wates, Jogja, Klaten, Solo, Semarang, Magelang, dan sebagainya *qo malah mirip trayek bis patas yoh?*. Bee mendapatkan satu, tapi hanya jadian selama kurang dari dua bulan. Hasilnya, Bee depresi hebat! Sebulan awal pasca KKN jadi malas kuliah dan nunda-nunda skripsinya. Parah! Segitu berasal dri budaya idaman ortu. Namun, ortu nggak ambil pusing *terkesan nggak peduli* dengan dampaknya. Bee jadi membayangkan mereka berujar: “Itu, kan, salahmu... terlalu cepat menilai orang!” Haruskah masa muda aku habiskan untuk mengejar SPMB? aRRRGGHHHH!!!!

Hingga saat ini, Bee masih menyimpan hasrat terpendam untuk melakukan sejumlah revolusi paham keluarga. Bee ingin membuka sedikit pikiran mereka (orang tua). Bukan dengan mengubah prinsip yang sudah ada, yang dipegang kukuh selama ini,
melainkan dengan memperkayanya. Apa, sich, esensi dari pernikahan dan berkeluarga? Yang Bee tahu bahwa pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan, melainkan juga menyatukan dua keluarga. Ada unsur memperkaya di dalamnya. Bukan sekedar memperkaya kedua pribadi itu sendiri, melainkan memperkaya kedua keluarga yang ikut terikat di dalamnya. Bukankah siapa pun ingin menjadi kaya? Lebih dari sekedar kaya harta, yang lebih ditujukan pada kaya sebagai pribadi dalam iman dan perbuatan nyata. Kaya akan iman yang diyakini oleh setiap pribadi bahwasanya Allah Bapa menciptakan laki-laki dan perempuan supaya mereka saling melengkapi (kutipan Kitab Kejadian). Dan juga akan keyakinan bahwa setiap pribadi lahir sebagai individu dengan kehendak bebas yang dianugerahkan oleh Bapa Surgawi sendiri. Lalu, ke manakah kehendak bebas itu? Yang Bapa Surgawi sendiri berani mempercayakannya kepada setiap manusia, tetapi manusia malah membatasi manusia lainnya. Ini soal cinta dan soal rasa. Ini soal perasaan nyaman dan kepercayaan. Ini soal membangun kebersamaan, kesamaan visi dan cita-cita hidup. Ini persoalan hebat yang dipercayakan Allah kepada setiap insan ciptaanNya, lebih dari apa yang diusahakan dan dilakukan orang tua terhadap anaknya dengan menyodorkan “Sosok Priya Maunya Bunda.”

Lagi, yang Bee tahu pernikahan itu sebuah lembaga. Wadah yang menyatukan dua pribadi dalam ikatan suci sehidup semati. Sebuah rantai yang hidup untuk menghidupkan. Maksudnya gini... dengan menyatunya dua pribadi, maka kedua rantai yang semula “ujungnya putus” bisa disambungkan dengan “ujung rantai” yang diketemukannya kemudian dan dipilihnya sebagai yang paling tepat. Kedua rantai hidup ini saling menyatu hingga kemudian menghasilkan kehidupan yang baru, yakni buah-buah hidup berkeluarga, seperti anak-anak yang lucu yang dianugerahkan Tuhan. Bukankah sejak lahir kita tidak dipesankan rantai yang bisa langsung match dengan rantai kita? Bahwa rantai yang berpasangan dengan rantai kita itu masih misteri saat kita lahir. Bahwa rantai itu ditemukan melalui proses pencarian di sepanjang perjalanan hidup ini sedari kecil hingga dewasa. Bahwa ra
ntai itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi kita yang mencarinya. Ingat: MENcari, bukan Dicarikan! Lantas, bagaimana mungkin orang tua melakukan stardardisasi atas (misalnya) rantai ideal untuk anaknya, sementara bukan anaknya sendiri yang mencarinya... hingga kemudian orang tua merasa mantap dan pas akan pilihan bagi anaknya itu? Semua kembali lagi kepada sesuatu yang hakiki dari kehidupan: manusia diciptakan sebagai pribadi dengan kehendak bebas. Bebas tidak berarti semaunya, Bee rasa siapa pun tau itu. Bebas berbuat, ya sudah tentu harus berani bertanggung jawab setelahnya.

Lalu, jika kita harus berperan aktif dengan MENcari, bagaimana dengan pepatah Jawa: witting trisno jalaran soko kulino (cinta datang karena terbiasa)? Bee justru melihat ini juga sebagai bagian dari proses MENcari itu tadi. Kok, bisa? Ya, bisa! Kedua individu yang dig
ambarkan oleh pepatah tadi itu mengalami proses pencarian satu terhadap yang lain. Keduanya berusaha untuk saling menyelami pribadi satu sama lain. Mereka tidak diam saja dan menunggu takdir memisahkan satu akan yang lain. Hanya saja, jika mereka dipertemukan melalui jalan perjodohan, ya sudah tentu bertentangan dengan argumentasi Bee sejak awal yang tidak setuju akan SPMB=Sosok Priya Maunya Bunda. Tidak setuju akan sebuah pilihan yang dipaksakan sekedar untuk membuat orang tua senang yang dilakukan sebagai penebus utang budi. Tidak setuju karena semua itu dilakukan secara terpaksa, yang malahan membawa kita pada obsesi berlebihan Hidup sudah cukup rumit, tinggal pandai-pandainya kita mengecap kenikmatan dan memaknai kebahagiaan yang terjadi dalam setiap prosesnya, dan menjadikan kerumitan ini tampak sederhana. Life simply, do many!


-------------------------------------------------------------------------------------------------
Melalui tulisan ini, Bee hendak berbagi pikiran, lebih tepatnya mengemukakan u
neg-uneg Bee tentang pola pikir orang tua yang kadangkala merasa mereka pernah muda, sehingga lebih kaya pengalaman dari anaknya. Orang tua yang menganggap pemikiran mereka itu mendekati dogma: yang baik buat kami, baik buat kamu. Bahwa apa yang baru akan kamu hadapi itu sudah pernah kami alami sebelumnya. Jika mereka memang pernah muda, tunjukkan, dong, toleransinya terhadap yang muda. Bukankah kita sama-sama dilahirkan sebagai pribadi dengan kehendak yang bebas? Bukankah kita sama-sama belajar dari kehidupan dan mengalami prosesnya meski dengan cara dan pada situasi yang berbeda? Zaman senatiasa berganti dengan zaman yang lain, paham-paham baru senantiasa berkembang, bagaimana mungkin hari ini sama dengan hari esok, sementara kemarin dan hari ini pun kita tumbuh sebagai pribadi yang semakin tua dan bertambah dewasa?


-------------------------------------------------------------------------------------------------

Akhir kata,
Boleh saja Sosok Priya Maunya Bunda (SPMB) menjadi sasaran yang Anda, juga Bee, targetkan (dan kejar) dalam hidup ini. Namun, satu hal yang perlu diingat adalah lakukan semua itu atas nama cinta. Cinta kita kepada orang tua meneguhkan mereka bahwasanya pilihan apa pun yang kita ambil, sedikitpun tidak berniat mengecewakan mereka. Sejak kecil, kita sudah diberi tahu akan apa yang baik dan tidak baik, hingga kita pun diharapkan mampu bertanggung jawab atas pilihan yang kita ambil. Sekali lagi, cinta itu soal rasa. Jika bukan kita secara pribadi yang merasakannya, bagaimana kita tahu cinta itu tepat untuk kita? Pernyataan Bee ini tidak bermaksud melanggengkan perbuatan “coba-coba” bermain dengan cinta; melainkan memotivasi Anda, juga Bee, untuk lebih peka akan rasa yang datang mengisi hidup kita. Berilah ruang bagi cinta itu tumbuh. Berilah ruang bagi setiap pribadi untuk menemukan cinta sejatinya, menentukan pilihan hatinya. Bukankah kebahagiaan kita kelak akan menjadi kebahagiaan orang tua juga?


Apakah itu cinta?

Hanya kamu dan hatinya, juga dia dan hatimu, yang akan mampu memberi jawabnya.



Apakah Kamu semakin mantap untuk berhadapan dengan ortumu (juga ortunya) demi memperjuangkan cinta kalian? Ataukah Kamu malah tertarik untuk melirik Bee? *LoL*


Finally,
GO REACH THE ONE YOU LOVE!

Kamis, 19 Februari 2009

Whatever You THINK, think the OPPOSITE

Judul barusan Bee ambil dr judul salah satu buku yg pernah iseng Bee baca di Gramedia Amplaz. Sayangnya lupa nama pengarang dan penerbitnya. Entah kenapa secara tiba-tiba keinget judul buku tersebut gara-gara Kerbau Kayu dan Kelinci Api yang menggerakkan Bee untuk berbagi pikiran.

Kenapa Kerbau Kayu dan Kelinci Api? Yaaa.., seorang teman di facebook baru saja memberi informasi bahwa Kerbau Kayu tidak cocok dengan Kelinci Api karena kayunya akan hangus dibakar oleh api. Mungkin Kamu bisa saja berkomentar: "hari gene...masih kepikiran soal shio?" Eitss, eitss, tahan dulu argumen ngototmu. Kalau Kamu berada di posisi yang tidak terlalu percaya akan ramalan shio, yuk mari bergabung dengan Bee dan Kita cari rumusannya.

Dengan merujuk pada buku "Whatever You Think, Think The Opposite", jelas Bee memiliki pandangan yang kurang selaras dengan argumen bahwa "kayu" tidak cocok dengan "api". Memang benar bahwa kayu bisa terbakar oleh api. Pelajaran Fisika ataupun Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang diajarkan semasa SMP dan SD pun telah menceritakan proses alam tersebut. Tapi, apakah sampai di situ saja? Bahwa kayu akan hangus terbakar api dan selesailah sudah. Lalu, bagaimana dengan "air" dan "api" ? Air akan memadamkan api itu dianggap hal yang baik oleh sejumlah ramalan shio. Tapi, apakah iya sebaik itu? Setelah api padam oleh air, habislah sudah energinya. Bagaimana dengan "logam" dan "api" ? Lalu, "tanah" dan "api" ? dan seterusnya................

Kayu dan Api akan tetap menjadi dirinya sendiri dan tidak memberi manfaat bagi yang lain saat keduanya tetap bertahan pada wujudnya. Kayu harus hangus terbakar oleh api agar suku-suku pedalaman bisa memasak bahan-bahan yang diperoleh dari alam untuk mereka makan. Kayu harus hangus terbakar oleh api sehingga bisa menghasilkan energi untuk memasak dan mungkin juga pembangkit listrik. Ingatkah Kamu akan batu bara? Batu bara merupakan salah satu jenis bahan bakar yang banyak digunakan oleh negara-negara Eropa semasa Revolusi Industri dulu. Ingatkah Kamu akan bahan dasar batu bara? *Tiba-tiba Bee teringat salah satu hafalan tentang batu bara semasa SD dulu* Batu bara terbentuk dari fosil tumbuh-tumbuhan yang tertimbun selama berjuta-juta tahun lamanya. Sebagai bahan bakar, batu bara mengandung unsur karbon, hidrogen, dan oksigen. Oleh karena batu bara merupakan fosil tumbuhan, maka sudah pasti terdapat unsur kayu di dalamnya. Kemudian, saat unsur kayu ini bertemu dengan unsur api dari tempat yang berbeda, maka jadilah mereka satu dan menghasilkan energi yang lebih besar.

Bee pun jadi ingat perkataan Sang Guru tentang biji atau benih. Ketika sebuah benih ditaburkan ke tanah, maka benih itu akan mati atau hancur sebelum akhirnya ia menghasilkan benih-benih baru. Kemudian, Bee pun teringat akan proses pengambilan getah karet. Bukankah batang karet itu harus dilukai terlebih dahulu agar getahnya ke luar, lalu diolah menjadi beraneka produk karet? Apa artinya? Artinya, luka dan pengorbanan itu tidak lepas dari upaya menghasilkan sesuatu hal yang lebih. Lebih besar... lebih banyak... mungkin juga lebih dahsyat. Lalu, apa hubungannya dengan kayu?

Perjalanan zaman telah membuat kayu-kayu pada masa purbakala tertimbun di dalam tanah selama berjuta-juta tahun lamanya. Timbunan ini membentuk apa yang kita sebuh fosil tumbuhan yang tak lain menyerupai batu bara tadi. Bedanya, fosil cenderung diawetkan sebagai temuan, guna memperkaya studi keilmuan. Sementara itu, batu bara dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Nah, kayu yang ada di dalam batu bara ini sudah lapuk.. sudah hancur.. tidak segagah dan sekokoh saat dirinya masih berdiri dengan angkuhnya di dalam hutan sana bersama kawanannya. Hingga tiba masanya, sebagian dari dirinya *dalam kemasan briket batu bara* terbakar bersama api. Elemen kayu dan api yang melebur bersama ini menghasilkan energi yang mampu menggerakkan kereta-kereta baja milik bangsa Eropa tempo dulu. Kebayang, kan betapa beratnya kereta-kereta baja tersebut dibandingkan bobot kayu itu sendiri...

See?
Kayu bisa hangus terbakar api, tapi keduanya tidak terbatas saling menghancurkan semata.

Bagaimana jika peristiwa yang menyisakan pandangan 'pesimis' tersebut (hancur/musnah/sirna) diganti dengan sebuah istilah yang lebih optimis, yakni "kolaborasi"? Kayu berkolaborasi dengan api. Keduanya merupakan partner yang sepadan dalam berkarya. Peleburan di antara keduanya menciptakan suatu daya yang semula tidak ada. Keduanya bertahan bersama dan lenyap bersama pula. Cobalah amati kayu yang terbakar di dalam api unggun yang Kamu buat... Bukankah saat kayu habis, maka lama-kelamaan api akan turut padam jua..?

Kayu dan api yang semula terpisah... lalu bertemu... pada akhirnya sirna di saat yang hampir bersamaan. Jadi, buat Kamu yang berkecil hati karena (mungkin) pasangan kamu berasal dari elemen yang berbeda... ambillah sikap hening dan berpikirlah sekali lagi. Tidak selamanya apa yang orang bilang berpotensi menghancurkan akan menghancurkanmu juga...



Suatu hal manis Bee temukan dalam larik puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul "Aku Ingin":

" Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu..."

See?
Ada cinta di sana...
Antara api dan kayu...
Yang membuat kayu rela menjadi "abu"


Kehancuran dan kemusnahan itu (yang seringkali disebutkan dalam beraneka ramalan seputar shio) tidak melulu berhenti sampai di situ. Bukankah hidup ini berkelanjutan?

Akan selalu ada episode setelah 'kemarin' yaitu 'hari ini', dan akan selalu ada harapan akan hari 'esok' setelah saat ini. Berpikirlah dari sisi yang lain.. yang berbeda.. yang berlawanan.. selama pikiranmu itu menyelamatkan (bukan sekedar menyesatkan).

Semangat!!